{"id":10869,"date":"2026-02-19T08:12:11","date_gmt":"2026-02-19T01:12:11","guid":{"rendered":"https:\/\/pta-pontianak.go.id\/?p=10869"},"modified":"2026-02-24T15:05:42","modified_gmt":"2026-02-24T08:05:42","slug":"pta-pontianak-gelar-kultum-ramadhan-1447-h-kpta-pontianak-tekankan-manajemen-risiko-ibadah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pta-pontianak.go.id\/index.php\/2026\/02\/19\/pta-pontianak-gelar-kultum-ramadhan-1447-h-kpta-pontianak-tekankan-manajemen-risiko-ibadah\/","title":{"rendered":"Manajemen Risiko Dalam Ibadah. Oleh: Dr. Candra Boy Seroza, S.Ag., M.Ag."},"content":{"rendered":"<p><strong>Pontianak<\/strong> \u2013 Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan 1447 H sekaligus memperkuat pembinaan mental spiritual aparatur, Pengadilan Tinggi Agama Pontianak menyelenggarakan kegiatan Kuliah Tujuh Menit (Kultum) Ramadhan yang dilaksanakan secara rutin setiap hari kerja <strong>setelah pelaksanaan Shalat Zuhur berjamaah<\/strong> di mushalla kantor.<\/p>\n<p>Kegiatan ini diikuti oleh Wakil Ketua, para Hakim Tinggi, pejabat struktural dan fungsional, serta seluruh aparatur PTA Pontianak. Pelaksanaan kultum setelah Zuhur diharapkan menjadi momentum penguatan ruhani di tengah aktivitas kerja, sekaligus menjaga keseimbangan antara profesionalisme dan spiritualitas.<\/p>\n<p>Kultum perdana Ramadhan 1447 H disampaikan langsung oleh Ketua PTA Pontianak, <strong>Candra Boy Seroza. Dalam tausiyahnya yang bertema <\/strong>\u201cManajemen Risiko dalam Melaksanakan Ibadah Ramadhan\u201d, beliau mengajak seluruh aparatur untuk tidak hanya menjalankan puasa secara formal, tetapi juga mampu mengelola risiko-risiko yang dapat mengurangi nilai dan pahala ibadah.<\/p>\n<p><strong><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-10871 size-large\" src=\"https:\/\/pta-pontianak.go.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/kultum-2-1024x768.jpeg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"600\" srcset=\"https:\/\/pta-pontianak.go.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/kultum-2-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/pta-pontianak.go.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/kultum-2-300x225.jpeg 300w, https:\/\/pta-pontianak.go.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/kultum-2-768x576.jpeg 768w, https:\/\/pta-pontianak.go.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/kultum-2.jpeg 1280w\" sizes=\"(max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/strong><\/p>\n<p><strong>Ramadhan dan Risiko KehilanganMakna<\/strong><\/p>\n<p>Mengawali penyampaiannya, KPTA mengutip firman Allah SWT:<\/p>\n<p><strong>\u201cY\u0101 ayyuhalladz\u012bna \u0101man\u016b kutiba \u2018alaikumush-shiy\u0101m\u2026 la\u2018allakum tattaq\u016bn.\u201d<\/strong> (QS. Al-Baqarah: 183)<\/p>\n<p>Beliau menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah mencapai derajat taqwa. Oleh karena itu, setiap potensi yang menghambat tercapainya taqwa merupakan risiko yang harus diidentifikasi dan dikendalikan.<\/p>\n<p>\u201cRisiko terbesar dalam puasa bukan batal secara fikih, tetapi hilangnya nilai karena lisan yang tidak terjaga, emosi yang tidak terkendali, dan integritas yang melemah,\u201d ujar beliau.<\/p>\n<p>Beliau juga mengingatkan sabda Rasulullah SAW:<\/p>\n<p><strong>\u201cMan lam yada\u2018 qawla az-z\u016br wal \u2018amala bihi falaysa lill\u0101hi h\u0101jah an yada\u2018a tha\u2018\u0101mahu wa syar\u0101bahu.\u201d<\/strong> (HR. Bukhari)<\/p>\n<p>Hadis tersebut menegaskan bahwa puasa harus melahirkan perubahan perilaku, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.<\/p>\n<p><strong>\u00a0Muraqabah sebagai Sistem Pengendalian Diri<\/strong><\/p>\n<p>Dalam kultumnya, Candra Boy Seroza menekankan pentingnya <strong>muraqabah<\/strong>, yakni kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap perbuatan manusia, sebagaimana firman-Nya:<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>\u201cAlam ya\u2018lam bi annall\u0101ha yar\u0101.\u201d<\/strong> (QS. Al-\u2018Alaq: 14)<\/p>\n<p>Kesadaran ini, menurut beliau, merupakan sistem pengendalian internal yang paling efektif dalam membangun integritas aparatur peradilan.<\/p>\n<p>\u201cJika kita sadar diawasi Allah, maka tidak ada ruang untuk penyimpangan, baik dalam pelayanan perkara, pengelolaan administrasi, maupun dalam interaksi dengan masyarakat,\u201d tegas beliau.<\/p>\n<p><strong>\u00a0Implementasi dalam Tugas Aparatur Peradilan<\/strong><\/p>\n<p>KPTA juga mengingatkan bahwa puasa tidak boleh menjadi alasan turunnya produktivitas dan kualitas pelayanan. Justru Ramadhan harus menjadi momentum peningkatan kedisiplinan dan empati terhadap para pencari keadilan.<\/p>\n<p>Beberapa poin penting yang disampaikan antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>Menjaga profesionalisme dalam persidangan meskipun dalam kondisi berpuasa.<\/li>\n<li>Menghindari penundaan pelayanan perkara tanpa alasan yang sah.<\/li>\n<li>Menjaga lisan dan sikap dalam berinteraksi dengan masyarakat.<\/li>\n<li>Menghindari segala bentuk gratifikasi dan konflik kepentingan.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Menurut beliau, menjaga integritas dan mencegah potensi penyimpangan merupakan bentuk nyata manajemen risiko dalam ibadah sekaligus dalam pelaksanaan tugas kedinasan.<\/p>\n<p>Ramadhan sebagai Madrasah Karakter<\/p>\n<p>Menutup kultumnya, KPTA mengajak seluruh aparatur untuk menjadikan Ramadhan sebagai madrasah penguatan karakter.<\/p>\n<p>Ramadhan harus melahirkan aparatur yang lebih sabar, lebih jujur, dan lebih amanah. Yang berubah bukan hanya suasana ibadahnya, tetapi juga kualitas kepribadiannya,\u201d pungkas beliau.<\/p>\n<p>Kegiatan Kultum Ramadhan di lingkungan Pengadilan Tinggi Agama Pontianak akan terus dilaksanakan sepanjang bulan suci sebagai bagian dari pembinaan berkelanjutan dalam rangka memperkuat integritas dan profesionalisme aparatur peradilan agama.<\/p>\n<p>Dengan semangat Ramadhan 1447 H, PTA Pontianak berkomitmen menghadirkan pelayanan peradilan yang semakin berkeadilan, berintegritas, dan berlandaskan nilai-nilai spiritual.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pontianak \u2013 Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan 1447 H sekaligus memperkuat pembinaan mental spiritual aparatur, Pengadilan Tinggi Agama Pontianak<\/p>\n","protected":false},"author":29,"featured_media":10870,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"colormag_page_container_layout":"default_layout","colormag_page_sidebar_layout":"default_layout","footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-10869","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pta-pontianak.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10869","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pta-pontianak.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pta-pontianak.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pta-pontianak.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/29"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pta-pontianak.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10869"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/pta-pontianak.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10869\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10918,"href":"https:\/\/pta-pontianak.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10869\/revisions\/10918"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pta-pontianak.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10870"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pta-pontianak.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10869"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pta-pontianak.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10869"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pta-pontianak.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10869"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}