Badilag Gelar Mental Health Awareness, PTA Pontianak Ikuti dari Media Center
(Pontianak, 13 Mei 2026) Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung RI menggelar kegiatan Peningkatan Kesadaran dan Ketangguhan Mental (Mental Health Awareness) Hakim dan Aparatur Peradilan Agama secara daring melalui Zoom Meeting pada pukul 09.00 WIB hingga 11.30 WIB. Pengadilan Tinggi Agama Pontianak turut mengikuti kegiatan tersebut dari Media Center.

Mengangkat tema “Resiliensi Hakim dan Aparatur Peradilan Agama dalam Menghadapi Tekanan Psikologis dan Kompleksitas Perkara”, kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan mental bagi hakim dan aparatur peradilan agama di seluruh Indonesia dalam menghadapi tantangan pekerjaan yang semakin kompleks.
Direktur Jenderal Badan Peradilan Agama, Drs. Muchlis, S.H., M.H., dalam sambutannya menegaskan bahwa kesehatan mental bukan lagi persoalan individu semata, melainkan tanggung jawab institusional yang harus menjadi perhatian bersama.
“Melalui acara ini kami berharap terjadi perubahan paradigma bahwa kesehatan mental adalah tanggung jawab institusional. Tidak boleh ada aparatur yang merasa terisolasi di wilayah kerjanya,” ujarnya.
Dirjen Badilag juga membuka ruang evaluasi terhadap beban kerja dan kesejahteraan aparatur demi mendukung kesehatan mental yang lebih baik. Ia mengajak seluruh peserta menjadikan kegiatan ini sebagai momentum penyembuhan dan penguatan diri.
“Jadilah SDM peradilan agama yang berempati, kuat, dan sejahtera,” pesannya.
Kegiatan dipandu oleh Mochamad Mirza, S.Psi., M.Psi., Psikolog sekaligus ASN Biro Kepegawaian Mahkamah Agung RI. Dalam pengantarnya, ia menyampaikan bahwa stres kerja dapat berdampak langsung terhadap kualitas pelayanan kepada masyarakat. Ia juga mengungkap hasil survei yang menunjukkan bahwa 97 persen hakim menyatakan institusi memiliki tanggung jawab terhadap kesehatan mental aparatur.

Sementara itu, Sekretaris Ditjen Badilag, Drs. Arief Hidayat, S.H., M.M., menegaskan bahwa program penguatan kesehatan mental menjadi salah satu prioritas Badilag dalam pembangunan sumber daya manusia.
Menurutnya, profesi hakim adalah amanah yang patut disyukuri dan dijalani dengan penuh makna.
“Jika kita fokus pada keluhan maka kita akan lelah, tetapi jika berfokus pada rasa syukur, maka hati akan tetap positif dan bahagia,” ujarnya.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber Prof. Dr. (HC) Ary Ginanjar Agustian, Founder ESQ Group, yang membawakan materi dengan pendekatan motivasional dan spiritual. Dalam pemaparannya, ia mengangkat kisah Nick Sitzman tahun 1942 yang meninggal karena sugesti pikiran saat terkunci di ruang pendingin yang ternyata tidak aktif.
Menurut Ary Ginanjar, tekanan psikologis sering kali lebih dipengaruhi oleh kondisi internal dibanding situasi eksternal.

“Jika merasa tertekan karena perkara yang banyak atau penempatan yang jauh, bisa jadi masalahnya bukan di luar, tetapi di dalam diri,” ungkapnya.
Ia juga mengutip pandangan Ibnu Sina bahwa kegelisahan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran merupakan awal kesembuhan.

Lebih lanjut, ia mendorong hakim untuk memiliki kemampuan self healing, termasuk memahami teknik hypnotherapy sederhana untuk menyegarkan pikiran, serta kemampuan coaching agar mampu membangun komunikasi yang positif dalam lingkungan kerja.
Menutup kegiatan, Sesdirjen Badilag menyampaikan harapan agar webinar ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, tetapi menjadi momentum berkelanjutan dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia peradilan agama.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada narasumber, moderator, serta seluruh peserta yang telah mengikuti kegiatan dengan antusias.


